KEMANUSIAAN, CINTA, DALAM SUSASTRA

 

KEMANUSIAAN, CINTA, DALAM SUSASTRA

 

Manakala hendak menulis kata pengantar ini, tiba-tiba handphone saya berbunyi. Ternyata sebuah whatsapp (WA) dari sahabat saya Putu Fajar Arcana, sastrawan dan wartawan harian umum Kompas. Pada WA itu, CAN, demikian panggilan akrabnya – mengirim tulisan opini tentang ‘Ibadah Sastra Untuk Kewarasan Umat’ di rubrik ePILOG Kompas.id. ePILOG adalah rubrik khusus tulisan-tulisan opini CAN.

Saat membuka WA itu, saya tertarik dengan kalimat yang singkat, tapi membuat saya tergoda untuk membaca tulisannya secara lengkap. Tulisan singkat tersebut juga terkait dengan materi yang hendak saya tulis.. Bagini kalimatnya : “Sastra adalah ibadah yang menuntun umat untuk selalu waras. Kisah Ni Diah Tantri telah mengubah perangai seorang raja yang beringas menjadi welas asih. Gimana dengan kini? Kau yang haus kuasa dan harta, baca-bacalah sastra! Simak ePILOG”. 

Pada tulisan itu, CAN menjelaskan tentang kekuatan sastra dalam mengubah diri seseorang lewat cerita fabel, Diah Tantri. . Esensinya, bahwa sastra itu adalah sradha, suatu jalan spiritual yang tertanam secara bawah sadar serta mengasah keimanan – kemudian mengantar untuk meraih sesuatu yang disebut moksha atau pencerahan. Pada karya itu diceritakan tentang kebengisan raja Eswaryadala.

Ni Diah Tantri, yang ‘dipersembahkan’ kepada Raja Eswaryadala punya cara untuk menyadarkan sang raja melalui susastra.

Selanjutnya, melalui cerita cerita fabel yang di tuturkan oleh Ni Diah Tantri setiap malam pada Eswaryadala — raja negeri Patali Nagantun tersebut — akhirnya mampu mengubah kelakuan dan sifat buruk sang raja. Cerita-cerita/dongeng itu bahkan masih populer dikalangan masyarakat hingga kini, terutama masyarakat Bali. CAN ingin menunjukkan bahwa sastra mampu memberi pencerahan juga pada penikmatnya lewat cerita Ni Diah Tantri ini.

Tulisan sahabat CAN ini, seperti mengingatkan saya pada karya sastra para Mpu masa lalu, yang tetap abadi hingga kini. Yang mana, kala itu, karya Sastra menjadi suatu pendidikan etik moral dalam kehidupan. Sastra kuno tersebut — hingga kini tetap punya nilai manfaat — tak hanya bermanfaat bagi para ahli purbakala dan ahli epigrafi saja, tapi juga masyarakat luas.

Suatu contoh adalah Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular yang hidup di jaman Majapahit abad 14, semasa pemerintahan raja Hayamwuruk. Petikan karya sastra tersebut, bahkan menjadi semboyan bangsa Indonesia yang tertulis di lambang negara, Garuda. Ini merupakan semboyan persatuan dan kesatuan bangsa mengingat bangsa indonesia memiliki 1340 suku bangsa dengan 718 bahasa daerah dan tersebar di 17.000 pulau. Tentu, tak mudah untuk mempersatukannya. Tapi, Bangsa Indonesia bisa. Peran semboyan Bhinneka Tunggal Ika, tak bisa dikesampingkan, selain kepiawaian para pemimpin mempersatukan bangsa ini tentunya,

Berikut, petikan teks Sutasoma, yang saya petik dari media sosial:  //Rwaneka dhatu winuwus Budha Wiswa//Bhinneki rakwa ring apan kena parwanosen//Mangka ng Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal// Bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa. Artinya sebagai berikut ://Konon Buddha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda//Mereka memang berbeda, tetapi bagaimanakah bisa dikenali??//Sebab kebenaran Jina (Buddha) dari Siwa adalah tunggal//Berbeda-beda manunggal menjadi satu, tidak ada kebenaran yang mendua//.

Begitulah susastra, tak hanya susunan kata-kata indah saja. Tapi juga mengandung muatan  nilai-nilai kebaikan, edukasi, etika, pesan, saran, opini, atau kritik.  Pada sejarahnya, susastra memang punya andil dalam perkembangan peradaban manusia dan kemanusiaan. Dengan harapan, seperti yang CAN tulis ;  Ibadah yang menuntun umat untuk selalu waras. Sebab, sastra tak hanya menyajikan keindahan saja, tapi juga pendidikan tentang etik moral, bertutur tentang kebaikan dan kebenaran yang berkait dengan pertumbuhan akal budi dan bermanfaat bagi masyarakat luas.

Tentang susastra yang mewaraskan itu, paralel dengan pendapat filsuf Immanuel Kant tentang etika. Menurut Kant, etika penting untuk mengaktifkan rasionalitas seseorang, agar ia mampu mengembangkan pertumbuhan ‘prestasi insaniah’. Kant begitu kagum pada hal inderawi, juga prespektif moralitas yang intrinsik dalam diri individu. Simak pendapat Kant ; ‘Coelum stellatum supra me, lex moralis intra me’ (begitu cemerlang bintang di langit, demikianlah kesusilaan di dada manusia)

Bagi saya, produk pemikiran Kant ini merupakan pemahaman tentang pendidikan budi pekerti , dengan penanaman nilai-nilai kearifan dalam masyarakat. Termasuk di dalamnya adalah kearifan tradisi. Titik fokusnya, cenderung pada wilayah affektif , aspek kognitif dan psikomotorik. Ini semacam proses pembentukan yang menumbuhkan watak dan akan menjadi kekuatan moral serta akan menumbuhkan cita rasa kemanusiaan pada diri seseorang.

Hal Ini tak jauh berbeda dengan pemikiran almarhum penyair Umbu Landu Parangg.  Bagi Umbu, dalam dunia pendidikan sangat diperlukan upaya apresiasi sastra atau apresiasi seni secara lebih luas. Apresiasi seni, menurut Umbu — akan menunjang proses pertumbuhan ‘prestasi insaniah’ — untuk mengimbangi dan melangkapi ‘prestasi rasional’. Tentang pendapat almarhum Umbu berkait dengan keseimbangan kedua prestasi itu, memang sangat diperlukan bagi tumbuhnya nilai-nilai kemanusiaan dalam dunia pendidikan. Umbu acap menyebutnya, Humaniora.

Pada buku kumpulan puisi bertajuk ; ‘Katakan Dengan Puisi’ ini, saya juga menemukan beberapa hal yang berkait dengan persoalan paling esensi pada kemanusiaan, yakni ; cinta. Dalam beberapa puisi Prof. Rai,  misalnya – tersirat makna cinta yang dalam pada almarhumah istrinya. Jadi, kesedihan yang mendalam dalam diri mantan Rektor Institut Seni dan Budaya Indonesia (ISBITanah Papua ini, menumbuhkan ‘daya puitika’ dalam dirinya. Untuk ‘menumpahkan’ dan mengeskpresikan kesedihan yang ada dalam jiwa beliau, hanya kata-kata puitis yang mampu mewakili nya

Sebagai seorang etno musikolog, Prof Rai, juga punya sensitifitas pada irama, simak susunan kata pada karya beliau yang bertajuk Takdir ; ..//Jangan menghapus darah//hanya karena sempat berpisah//hapuslah perpisahan//demi cinta dan kasih sayang abadi//… Pada susunan kata-kata ‘puitika’ ini, tampak jelas betapa besar cinta Prof. Rai pada mendiang istrinya. Bisa kita simak kata darah pada kalimat ; Jangan menghapus darah. Kalimat ini, sepertinya metafor dari pertalian cinta yang amat erat antara beliau pada almarhumah. Prof Rai berharap, perpisahan dan kematian  tidak menghapus cintanya yang begitu besar pada almarhumah.

Pada puisi yang berjudul ‘Sendiri’, juga dapat kita rasakan kekuatan cinta nya lewat kata-kata ‘berjiwa’. Simak hasil imaji Prof. Rai ;  ..//Jiwaku terikat padat tanpa tali//tak sehelai benang pun//….//hatiku melayang//penuh khayal imajinasi//ku diikat dan terikat//akhirnya dipisahkan//..Bisa kita bayangkan kekuatan imaji itu lewat kata bagaimana suatu ikatan tanpa tali. Juga bisa kita rasakan pada penekanan kata ‘tak sehelai benangpun’. Hal semacam ini, hanya bisa ‘dirasakan’ tanpa perlu penjelasan tentunya.

Soal cinta yang menggerakkan imaji Prof. Rai tak hanya diperuntukkan almarhumah istrinya saja. Ia juga ‘menebar’kan cinta pada sesama, mahasiswanya. Cinta kasih pada sesama itu bisa kita simak pada karya puitiknya berjudul ‘Selamat Jalan Sahabat’. Puisi duka ini, secara naratif menceritakan tentang kematian Tom mahasiswa ISBI. Prof Rai, mewisuda Tom di saat hari  wafatnya.

..//Aku…aku rektor ISBI Tanah Papua//mewisuda mu//Dengan doa, air mata, dan hati yang teriris//. Dari petikan kata kata puitik tersebut, terbaca betapa hubungan Prof Rai dan mahasiswanya tak hanya hubungan rektor dan mahasiswanya. Tetapi, ada hubungan yang lebih erat,  seperti orang tua dan anaknya. Lebih dari itu, ini hubungan cinta kasih antar sesama. Rasa puitik Prof Rai lantas muncul ketika mendengar kematian Tom, mahasiswanya. Soal cinta kasih itu, lebih ditegaskan oleh Prof Rai pada kalimat ..//tolong sebarkan kasih sayang dan//keindahan//di alam sana//..

Perbincangan tentang cinta, juga bisa kita simak pada karya Nyoman Lia Susanthi. Ia, yang aktif di dunia media film dan video serta menerbitkan beberapa buku, maka soal ketrampilan berbahasa tak jadi masalah. Apalagi, sebelumnya Lia juga pernah  aktif di dunia jurnalistik.  Coba kita simak pada puisinya yang bertajuk ‘Salah Hati’. //Aku memohon kepada Tuhan untuk mengirim malaikat dalam rupa kamu//Tapi aku lupa meminta Tuhan agar kamu bisa jadi malaikatku selamanya//Bukan seperti udara yang kau hirup, kemudian kau hempas begitu saja//Bukan seperti ombak yang kau gulung, kemudian kau lepas begitu saja//

Pada susunan kalimat puitik ini, Lia amat cermat dalam memilih diksi, hingga penikmat bebas menginterpretasikan siapa ‘kamu’ dan ‘kau’ yang Lia maksud dalam perbincangan cinta tersebut. Bisa saja yang diharapkan penulis adalah kekasih, sahabat, saudara/keluarga, atau figur lain yang baginya adalah sosok yang amat penting. Lia tampak paham dalam menghadirkan kata-kata metaforik untuk mewakili ‘rasa puitika’ yang ada dalam dirinya. Memang, setiap peristiwa akan memunculkan suasana puitik dalam diri seseorang, asal ia memiliki sensitifitas dan kekuatan imajinasi.

Dengan apik juga, Lia menghadirkan ambiguitas pada diksi berikut ini//Tuhan aku jatuh hati dengan malaikat yang tak bisa menjadikan aku malaikatnya//Aku jatuh cinta dengan dia yang kusimpan namanya tapi tidak hatinya//Aku terjatuh pada dia yang ku buatkan kisah tapi tak bisa berbagi kisah sama-sama//. Jadi — jelas terlihat Lia amat paham  prinsip puisi — antara lain tentang pilihan diksi, juga

tentang idenya yang bisa dipahami dengan makna yang lebih luas sesuai tafsir penikmatnya. Begitulah puisi, acap menghadirikan makna yang multitafsir.

Pilihan diksi yang bagus juga bisa kita simak pada puisi-puisi Rina’s, bagaimana ia mempergunakan simbol angin untuk mewakili gagasannya yang berkait dengan cinta. Mari kita nikmati ;..//Angin menyadarkanku//Bahwa cinta masih setia bertiup//Bahkan bersedia memeluk hujan//Agar tandus jiwaku berakhir. Cinta, memang acap jadi ‘oase’ bagi jiwa yang gersang. Sedangkan metafor angin, sepertinya merupakan anasir yang membangkitkan ‘kesadaran’ baginya.

Harapan dari hadirnya ‘kesadaran’ itu, munculnya suatu ‘daya’ untuk mewujudkan segala impiannya menjadi kenyataan. Serta, ingin ‘menumbuh’kan sesuatu yang ada di dalam dirinya, dengan ‘menyemai’ lewat ‘nilai-nilai’ positip yang ia pungut pada perjalanan hidup ini. Bisa kita simak pada bait ini ; ..//Di tengah liuk lembut angin berembus//Aku pun meliukkan impian dari terpaan kelesah//Biar aku tetap melangkah tanpa ingin serakah//Aku hanya hendak bersemai//...

Begitulah ulasan singkat tentang interpretasi saya pada beberapa puisi di buku antologi ‘Katakan Dengan Puisi III’ yang berkait dengan hal esensial kemanusiaan, yakni Cinta. Para penulis dengan masing-masing penggayaannya berekspresi lewat imaji dan kata kata indah dengan makna yang multiinterpretable.  Setiap penikmat, bebas menginterpretasi sesuai dengan kapasitas pengatahuan dan pengalaman hidupnya

Yang juga menarik dari buku ini adalah keterlibatan karya rupa Wayan Sujana ‘Suklu’. Proses Suklu membaca karya sastra dan mengekspresikannya menjadi karya rupa bukanlah sekedar alih wahana. Ada proses penciptaan berkutat dengan estetika pada puisi puisi tersebut, yang tidak sederhana tentunya. Maka saya sangat keberatan jika proses penciptaan karya semacam itu disebut  ilustrasi. Bagi saya, istilah ilustrasi kurang tepat. Saya lebih suka pada peristilahan intermingle yang acap dipergunakan oleh Suklu.

Menurut saya, manakala Suklu melakukan interpretasi untuk kemudian ia ekspresikan dengan medium tinta, chalcoal,  pada kertas/kanvas – maka, Suklu kian memperkaya makna dari puisi-puisi tersebut. Saya tak sedang membahas keterbatasan kosa kata karya-karya dengan medium bahasa (tekstual), namun ingin mengakui keluasan ‘kosa rupa’ dalam menghadirkan makna. Seperti pendapat Leonardo da Vinci ; O, penulis, dengan huruf-huruf apa dapat kau ungkapkan seluruh bentukan sesempurna yang diberi lukisan?

Akhir kata, saya ucapkan selamat pada para penulis atas terbitnya buku antologi puisi ini, semoga terus berlanjut kreatifitas menulis—hingga budaya literasi terus tumbuh subur. Mohon maaf apabila ada kesalahan atau kata yang kurang berkenan. Kita tunggu karya-karya berikutnya. Terima kasih  (Hartanto)

Comments